Batu dan Malang

Tak lama setelah saya pulang ke Indonesia September tahun lalu, salah satu sahabat saya, Gun (baca: penulis paling hits sejagat dunia maya), menikah di Malang, Jawa Timur. Berhubung yang bersangkutan sudah mengabari dan mengundang saya sejak jauh-jauh hari—lama sebelum undangan resmi disebar—untuk memastikan bahwa saya sudah berada di Indonesia pada hari-H, saya pun menyempatkan diri untuk hadir di acara beliau. Karena Malang lokasinya cukup jauh dari Bandung, bukan Hasna namanya kalau tidak memanfaatkan kunjungan tersebut untuk sekaligus bertamasya keliling kota. Akad nikah dilaksanakan hari Jumat pagi, sehingga saya memiliki waktu kosong dari Jumat siang hingga sebelum kepulangan saya ke Bandung hari Minggu sore.

Taman Selecta

Hari Jumat sekitar pukul 11 siang setelah rangkaian acara akad nikah selesai, saya dan Teh Inna memutuskan untuk berkunjung ke suatu tempat. Setelah mempertimbangkan berbagai opsi yang ada, kami memilih pergi ke Taman Selecta di Batu. Ada dua orang yang juga sama-sama datang dari jauh untuk menghadiri nikahan Gun yang tertarik bergabung dengan kami, sehingga kami berempat pun menyewa taksi hingga Taman Selecta. Taksi dari Malang hingga Taman Selecta adalah sekitar 80ribu rupiah, sementara tiket masuknya adalah 25ribu rupiah.

Taman Selecta ini ternyata adalah sebuah area rekreasi keluarga. Ada area kolam renang yang ukurannya cukup besar, ada patung-patung dinosaurus yang bertebaran di seluruh taman, serta ada area taman bunga yang menjadi salah satu lokasi favorit anak-anak muda untuk berfoto. Buat saya pribadi sih tamannya memang lumayan bagus dan relatif terawat, bikin betah lah pokoknya untuk berlama-lama di sana.

Selecta Garden

Selecta Garden

Menjelang sore hari, sekitar pukul 4, kami pun meninggalkan lokasi untuk kembali ke Malang, kali ini menggunakan angkutan umum. Berbekal nekat, google map, serta bertanya sana-sini, akhirnya kami pun sampai dengan selamat di Malang setelah berganti angkot hingga 3 kali.

Abis kondangan langsung jalan-jalan. Biar kelihatan seumuran, percayalah 2 dari mereka itu 5 tahun lebih muda dari gue.

Abis kondangan langsung jalan-jalan. Walau kelihatan seumuran, percayalah 2 dari mereka itu 5 tahun lebih muda dari gue.

 

Museum Angkut

Saya dan Teh Inna sepakat untuk menghabiskan hari Sabtu di Batu untuk mengunjungi 2 lokasi wisata, salah satunya adalah Museum Angkut. Kami berangkat pukul 9 dari Malang dengan berboncengan menaiki motor, Teh Inna sebagai pengemudi sementara saya adalah navigator dan penunjuk jalannya (dengan bantuan gmaps pastinya wkwkwk). Sekitar pukul 10.30 kami akhirnya sampai di Museum Angkut, dan setelah membeli makanan ringan dan minuman di toko terdekat, kami masuk ke dalam museum tak lama setelah museum dibuka pukul 11.

Sesuai namanya, Museum Angkut adalah tempat yang menampilkan berbagai macam bentuk transportasi dari masa ke masa. Areanya sangat luas dan isinya sangat menarik (at least untuk saya). Terutama bagi mereka yang gemar berfoto, museum ini adalah lokasi yang sangat tepat untuk menghimpun stok foto untuk diunggah di Instagram hingga berbulan-bulan ke depan saking banyaknya spot dan objek menarik di sini.

Begitu masuk, kami langsung berada di ruangan yang menyuguhkan transportasi darat di masa lampau. Ada kereta kuda ala keraton, mobil kepresidenan Soekarno, hingga mobil-mobil mewah jaman dulu yang digunakan di film-film lawas macam James Bond.

img_20160924_113201

Teh Inna dan mobil barunya (aamiin..!)

Ada juga area khusus transportasi udara tempat diperlihatkannya berbagai macam pesawat dan helikopter, baik militer maupun komersil.

Maaf alay. Inner child saya keluar tanpa terkendali di tempat ini.

Maaf alay. Inner child saya keluar tanpa terkendali di tempat ini.

Selain di dalam bangunan, sebagian isi museum adalah berupa area terbuka yang dibagi-bagi berdasarkan tema tertentu, didukung dengan setting lokasi yang dibuat semirip mungkin dengan tema yang dibawanya.

Pecinan

Pecinan

Broadway

Broadway

Pekerjaan utama: mahasiswa. Pekerjaan sampingan: jualan bunga di depan Buckingham Palace.

Pekerjaan utama: mahasiswa. Pekerjaan sampingan: jualan bunga di depan Buckingham Palace.

Setelah selesai berputar-putar dan sampai di ujung museum, kami pun keluar untuk mencari makan siang di pasar terapung di depan museum. Begitu melihat jam, ternyata waktu sudah hampir menunjukkan pukul 4 sore sehingga kami pun bergegas menuju ke destinasi kedua kami. Saran saya bagi yang mau mengunjungi Museum Angkut: alokasikan minimal setengah hari di sana, karena Museum Angkut ternyata sangat luas dan tidak mungkin bisa dinikmati seluruhnya dalam waktu yang sebentar.

Batu Night Spectacular (BNS)

Berbeda dengan Museum Angkut yang memang sudah sejak awal kami rencanakan untuk dikunjungi, kami memutuskan pergi ke BNS di detik-detik terakhir saat kami hendak meninggalkan Museum Angkut. Kalau kita menyusuri jagat Google dengan kata kunci ‘tempat wisata di Batu’, pasti akan keluar sangat banyak opsi tujuan wisata yang mustahil di-khatam-kan hanya dalam 1-2 hari. Hal itu pulalah yang sempat membuat kami kebingungan memilih akan ke mana kami selanjutnya setelah berkeliling Museum Angkut. Kandidat terkuat adalah BNS dan alun-alun kota Batu, dan akhirnya pilihan pun jatuh pada BNS.

BNS ini pada dasarnya adalah area wahana permainan seperti Dufan namun dengan skala yang jauh lebih kecil. Yang membuat tempat ini menarik adalah karena penuh dengan lampu-lampu sehingga pemandangannya jadi lebih bagus dan ‘spektakuler’ saat malam hari. Karenanya, tempat ini memang sengaja diperuntukkan sebagai ‘wisata malam’ yang baru ramai pengunjung saat sore hingga malam hari.

Berhubung kami tiba di sana sebelum gelap, lampu-lampu belum begitu terlihat sehingga kami menghabiskan waktu dengan menaiki berbagai wahana standar (tau lah ya, pokoknya mah wahana yang bikin teriak-teriak kayak di Dufan) dan galeri lukisan 3D. Karena masih sepi pengunjung (karena masih sore), hanya ada kami berdua di seantero galeri, yang membuat kami berpuas-puas untuk berfoto di sana-sini tanpa tau malu.

img_20160924_165746

Tujuan utama kami datang ke BNS adalah karena ingin melihat Taman Lampion. Bukan sesuatu yang aneh sih sebetulnya, taman yang isinya lampu-lampu dengan berbagai macam bentuk dan karakter. Di kota-kota lain juga pasti ada. Tapi kebetulan saya dan Teh Inna memang suka tempat begituan, jadi ya hajar aja hehehe… Kami berkeliling hingga dua putaran di Taman Lampion ini sebagai penutup untuk mengistirahatkan tubuh setelah berpusing-pusing dan bermual-mual ria dengan berbagai wahana yang membolak-balikkan badan.

Lamps are the perfect partner for darkness.

Lamps are the perfect partner for darkness.

Kami tidak ingin pulang terlalu malam karena khawatir tersesat di perjalanan dari Batu ke Malang, apalagi karena tak ada satupun dari kami yang hafal jalan padahal jalan Batu-Malang itu banyak melewati hutan. Nyasar-nyasar di siang hari masih oke, tapi nyasar-nyasar di malam hari apalagi saat jalanan gelap dan sepi, itu agak mengerikan hahaha. Setelah makan malam di depan BNS, sekitar pukul 7.30 malam kami pun memacu motor menuju Malang (dan ternyata kami beneran nyasar-nyasar wkwkwk).

Kampung Jodipan

Hari Minggu pagi, sebelum pulang ke Bandung, saya diajak melihat Kampung Jodipan, sebuah area yang dulunya merupakan perkampungan kumuh di bantaran sungai. Belum lama ini, sekelompok mahasiswa membuat proyek sosial untuk menjadikan kompleks tersebut sebagai tempat wisata dengan cara mengecat seluruh permukaannya dengan cat warna-warni. Sejak saat itu, tempat ini selalu ramai dikunjungi terutama di pagi hari saat akhir pekan. Pengunjungnya mayoritas adalah anak-anak muda yang, again, gemar mencari tempat untuk berfoto. Biaya masuk ke dalam lokasi ini adalah 2000 rupiah, yang digunakan untuk pemeliharaan area sekaligus untuk pemberdayaan masyarakat Kampung Jodipan. Sepintas, Jodipan mengingatkan saya pada Cinque Terre di Itali yang memiliki konsep yang sama, yakni kompleks rumah susun yang dicat berwarna-warni (bisa dibaca di sini).

Kampung Jodipan

Kampung Jodipan

Warna-warni tralala-trilili

Warna-warni tralala-trilili

img_20160925_085721

Maaf alay (lagi)

Berhubung cuaca mulai terik dan kami mulai kepanasan, kami menyudahi jalan-jalan kami di Jodipan dan pergi mencari makan di sekitar stasiun sebelum akhirnya pulang ke kota kami masing-masing. Saya menaiki kereta kembali ke Bandung, sementara Teh Inna kembali ke Pare dengan bus dari terminal.

Arrivederci!


A Day in Paris

Mengunjungi Paris bagi saya merupakan hasil dari sebuah proses ‘tarik-ulur’ yang panjang. Banyak orang meyakini bahwa Paris adalah one of the most romantic cities in the world, sehingga menyempatkan untuk singgah di Paris dianggap sebagai sebuah agenda wajib bagi siapapun yang melancong ke Eropa. Sudah tak terhitung berapa kali pertanyaan “Udah pernah ke Paris, Na?” mampir di telinga saya. Request semacam “Fotoin namaku pakai background Eiffel dong Na” atau “Titip kartu pos dari Paris ya Na” juga tidak kalah banyak jumlahnya, membuat saya menyimpulkan bahwa hingga saat ini Paris masih menjadi salah satu destinasi wisata terfavorit di dunia.

Namun sejak pertama kali tiba di Eropa, ada rasa enggan pada diri saya untuk mengunjungi kota tersebut. Testimoni dari banyak kenalan, termasuk orang tua dan teman-teman kuliah yang sudah terlebih dahulu bertandang ke Paris, mayoritas mengungkapkan bahwa Paris adalah kota yang cukup kotor dan betapa menara Eiffel sesungguhnya sangat overrated. Gambaran kota Paris di otak saya pun kurang baik: banyak copet, penduduk yang kurang ramah dan tidak bisa berbahasa Inggris, stasiun metronya bau pesing, Islamophobia, rasisme, dan sebagainya, sehingga saya pun agak malas untuk menyegajakan diri pergi ke sana. Ditambah lagi dengan kejadian salah satu teman Indonesia saya yang sempat ‘ditangkap’ dan digeledah serta diinterogasi di depan publik oleh pihak berwajib ketika sedang berjalan-jalan di Paris (sampai jadi tontonan orang-orang dan bahkan ada yang mengambil gambar) dan ditinggal begitu saja oleh para polisi tersebut setelah terbukti mereka salah tangkap. Lengkap sudah alasan bagi saya untuk tidak pergi ke sana.

Tapi lagi-lagi desakan dari teman-teman membuat saya akhirnya merasa kurang afdhol jika tinggal di Eropa selama 2 tahun tanpa sempat mengunjungi Paris. Minimal sekedar absen dan setor muka lah ya, begitu pikir saya. Niat ini didukung dengan ketersediaan direct bus setiap hari dari Eindhoven ke Paris juga untuk rute sebaliknya, yang memungkinkan saya untuk pulang-pergi dari Eindhoven ke Paris tanpa harus menginap di Paris (ceritanya berhemat, wkwkwk). Berhubung saya tidak berani pergi ke Paris sendirian (karena hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas), saya pun mencari teman yang bersedia menemani dan akhirnya berangkatlah saya bersama 4 orang teman.

Bus dari Eindhoven dijadwalkan berangkat sekitar pukul 01.00 dinihari dari depan Eindhoven Station. Sejak malamnya, kami berkumpul di rumah salah seorang teman yang apartemennya hanya 10 menit berjalan kaki dari lokasi perhentian bus. Kami berangkat agak terlambat karena busnya ternyata baru tiba lebih dari 30 menit dari jadwal, sehingga kami sampai di Paris mendekati pukul 8 pagi (di jadwal tertulis seharusnya pukul 7 kami sudah sampai). Kami diturunkan di terminal Porte Maillot, yang berlokasi di ujung pusat kota Paris arah barat laut.

Seturunnya kami dari bus, acara pertama kami adalah sarapan pagi. Kami sudah menyiapkan bekal masing-masing untuk sarapan dan makan siang. Selain untuk menghemat biaya, membawa bekal juga bisa menghemat waktu yang mungkin akan banyak terbuang untuk mencari tempat makan yang aman dari sisi kehalalan. Setelah makan dan beristirahat sejenak di tempat duduk dekat terminal, kami pun memulai agenda jalan-jalan yang sudah kami rancang sebelumnya. Kami berencana untuk berjalan kaki menyusuri garis lurus dari Porte Maillot ke arah tenggara hingga Museum Louvre dengan melewati berbagai monumen seperti Arc de Triomphe dan Place de la Concorde, lalu dilanjutkan dengan melihat Notre-Dame sebelum singgah di Grand Mosque untuk sholat Dzuhur dan Ashar.

Jarak antara Porte Maillot dengan Arc de Triomphe hanya sekitar 15-20 menit berjalan kaki. Karena saat itu masih pagi, suasanya masih cukup sepi dan belum banyak turis yang berkeliaran.

Arc de Triomphe

Arc de Triomphe

Arc de Triomphe dan Place de la Concorde dihubungkan oleh sebuah jalan yang bernama Champs-Élysées, yang terkenal sebagai area perbelanjaan. Kiri-kanan sepanjang jalan dipenuhi dengan toko-toko perlengkapan fashion merek ternama dunia. Setelah berjalan lurus cukup jauh, kami sampai di bundaran Franklin D Roosevelt. Untuk menuju Louvre, seharusnya kami terus berjalan lurus, namun kami memutuskan untuk berbelok ke kanan untuk melihat Grand Palais, Petit Palais, dan Pont Alexandre III. Kalau berjalan terus menyusuri Pont Alexandre III dan menyeberangi Sungai Seine, kita akan sampai di Musée l’Armée atau The Army Museum, yang merupakan lokasi dimakamkannya Napoleon Bonaparte.

Champs-Élysées, jalan yang memanjang dari Arc de Triomphe hingga Louvre.

Champs-Élysées, jalan yang memanjang dari Arc de Triomphe hingga Louvre. Masih sepi karena masih pagi.

Pont Alexandre III. Bangunan di pojok itu The Army Museum.

Pont Alexandre III dan Sungai Seine

Dari Pont Alexandre, kami kembali ke jalan utama Champs-Élysées dan berjalan lurus hingga sampai di Place de la Concorde. Selain ada bundaran dengan monumen yang dikelilingi oleh air mancur dan bangunan-bangunan tua, di sana juga terdapat sebuah bianglala besar tepat di pintu masuk Jardin des Tuileries atau Tuileries Garden. Karena lelah dan kepanasan (later we found out that it was around 35oC that day), kami duduk beristirahat di kursi-kursi yang bertebaran di bawah pohon di pinggir air mancur di dalam taman. Setelah mengumpulkan tenaga, kami lanjut berjalan ke ujung taman yang bersisian dengan gerbang Museum Louvre.

Jardin des Tuileries

Jardin des Tuileries

Well, siapa sih yang nggak tahu Louvre? Museum ini terkenal terutama karena keberadaan lukisan-lukisan ikonik milik Leonardo da Vinci, sebut saja Mona Lisa dan Virgin Mary. Popularitas museum ini dapat dilihat dari antrean panjang di depan pintu masuk dan keramaian luar biasa di pekarangan museum. Museum ini juga ternyata berukuran sangat besar. Semua orang yang sudah masuk ke dalam memberikan kesaksian yang sama, bahwa mustahil mengelilingi museum ini dalam satu hari. Ibu saya juga menyatakan hal yang serupa, katanya beliau menghabiskan satu hari penuh di Louvre dan hanya mampu mengunjungi satu bagian sayap museum. Tiket masuk ke dalam museum kalau tidak salah harganya 20 Euro, namun pelajar di bawah 26 tahun dapat masuk secara cuma-cuma.

Louvre Museum. Piramid di depannya jadi terkenal gara-gara Da Vinci Code-nya Dan Brown.

Louvre Museum. Piramid di depannya jadi terkenal gara-gara Da Vinci Code-nya Dan Brown.

Setelah berkeliling di sekitar Louvre, kami menyeberangi Seine melalui Pont Neuf menuju Katedral Notre-Dame. Lumayan menguras tenaga, karena selain jalannya memang cukup jauh (kalau ditempuh dengan berjalan kaki), hari itu udaranya luar biasa panas sehingga kami menjadi cepat merasa lelah. Katedral Notre-Dame juga sama ramainya dengan Louvre, antriannya panjang hingga ke taman. Sejak awal kami memang sudah memutuskan untuk tidak akan masuk ke dalam Notre-Dame, sehingga kami hanya duduk beristirahat di taman dan mengambil gambar dari jauh.

Notre-Dame. Kelihatan kan ya betapa teriknya hari itu?

Notre-Dame. Kelihatan kan ya betapa teriknya hari itu?

Karena sudah tidak sanggup lagi berjalan kaki, kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan metro, dengan membeli day-ticket yang bisa digunakan seharian secara unlimited. Dari Notre-Dame, kami menuju Grand Mosque untuk sholat. Kebetulan saat itu waktu Dzuhur adalah pukul 13.30, sementara kami sampai di sana sekitar pukul 12 siang, sehingga kami terlebih dahulu duduk berteduh di taman depan masjid untuk menyantap bekal makan siang. Setelahnya, barulah kami masuk ke masjid dengan tujuan beristirahat (baca: tidur siang) sebentar sebelum adzan.

Grand Mosque ini ukurannya besar dan tempatnya lumayan bagus. Sayangnya agak kurang friendly untuk turis karena keterangan-keterangannya hanya ditulis dalam bahasa Prancis dan Arab, seperti petunjuk untuk tempat wudhu dan tempat sholat untuk perempuan (dan kebetulan 2 tempat ini lokasinya jauh-jauhan dan ngumpet di basement, yang satu basement masjid dan satu lagi basement pekarangan, sehingga saya sempat cukup lama berputar-putar untuk mencari lokasi tempat sholat perempuan). Setelah sholat, saat saya keluar dari masjid, saya dibuat kaget karena banyak sekali petugas bersenjata berjaga di sekeliling masjid. Ternyata memang setiap waktu sholat, masjid selalu diamankan oleh pihak berwajib lantaran mencuatnya isu Islamophobia terutama pasca kasus pengeboman di Paris.

Seusai sholat, kami berkumpul di taman depan masjid dan menunggu kedatangan Mas Pedca, anak PPI di Paris yang rencananya akan menemani kami berkeliling Paris hingga sore hari nanti. Mas Pedca ini teman seangkatannya Fathin di STEI, dan buat saya doi ini ‘sesuatu’ banget karena Mas Pedca adalah satu dari sedikit orang yang berkomentar bahwa saya sangat mirip dengan Fathin (biasanya orang-orang justru nggak percaya kalau saya dan Fathin kakak-adik, malah suka diceng-cengin ‘adik ketemu gede’ atau ‘saudara seiman’ kalau kami bilang kami saudara).

Oleh Mas Pedca, kami dibawa ke Le Jardin du Luxembourg atau Taman Luxembourg. Sebetulnya tamannya bangus, banyak bunga-bunga warna-warni di sekeliling air mancur, dan di pojok taman ada Istana Luxembourg. Sayangnya, again, hari itu cuaca sangat panas dengan matahari yang sangat terik, sehingga agak sulit untuk bisa menikmati udara terbuka walaupun pemandangannya cantik.

Taman dan Istana Luxembourg

Taman dan Istana Luxembourg

Tak jauh dari Taman Luxembourg, terdapat Panthéon, sebuah bangunan megah yang merupakan tempat dimakamkannya tokoh-tokoh terkemuka Prancis, semisal Marie Curie, Victor Hugo, dan JJ Rousseau.

Panthéon

Panthéon

Berhubung mayoritas anggota rombongan adalah cowok (eh salah ding, semuanya cowok kecuali saya, hahaha), salah satu objek yang ingin mereka datangi adalah stadion sepak bola. Waktu itu pilihannya ada 2, stadion timnas Prancis atau stadion Paris Saint-Germain (PSG). Setelah mempertimbangkan lokasi dan tingkat ke-menarik-an, kami (mereka, lebih tepatnya) memutuskan untuk mengunjungi stadion PSG. Jika ditilik dari popularitasnya, awalnya saya mengira stadion PSG ini akan ramai oleh para penggemar sepak bola. Walaupun pastinya tidak akan seramai Old Trafford-nya MU atau Camp Nou-nya Barcelona, tapi saya agak heran juga melihat stadion PSG ternyata jauh lebih sepi dari yang saya bayangkan. Selain kami, pengunjung fan-store yang ada saat itu bisa dihitung dengan jari. Begitu pun dengan orang-orang yang berfoto di depan stadion, hanya satu-dua orang selain kami berenam.

Paris Saint-Germain

Paris Saint-Germain

Objek terakhir dalam agenda perjalanan kami tak lain dan tak bukan adalah Menara Eiffel. Hal ini dikarenakan lokasi menara ini dekat dengan terminal Porte Maillot tempat bus kami ke Eindhoven akan berangkat, dan konon katanya Eiffel memang paling oke dikunjungi saat sore hari (sebenarnya nggak sore juga sih, secara waktu itu lagi puncak summer dan saat kami tiba di Eiffel langit masih terang benderang). Selain itu, rencananya kami ingin duduk-duduk sore di taman sekitar menara, yang walaupun akhirnya kesampaian (dan ketemu dengan 2 orang Indonesia yang tinggal di Paris dan sedang piknik cantik juga di situ), tapi agak kurang enjoyable karena (lagi-lagi) cuaca yang terlalu panas dan terik. Ditambah lagi dengan suasana taman yang sangat penuh dengan orang-orang yang piknik dan berjemur, lalu ada pula bau pesing dari toilet umum tak jauh dari situ, kami pun segera bubar tak lama setelahnya.

The super-famous tower.

The super-famous tower.

Sebelum pulang, kami menyempatkan untuk singgah di McDonald dekat terminal untuk makan malam. Karena waktu keberangkatan bus masih cukup lama, kami pun bisa mengobrol santai terutama untuk bertanya-tanya kepada Mas Pedca tentang kehidupan di Prancis. Dan akhirnya perjalanan kami selama satu hari di Paris pun ditutup dengan saling melambaikan tangan (cieh) dengan Mas Pedca, sementara bus yang kami tumpangi bergerak pulang ke Eindhoven.


Giethoorn: Another Venice-of-the-North

Mereka yang pernah tinggal di Eropa pasti pernah (bahkan sering) mendengar istilah Venice of the North. Julukan tersebut diberikan pada wilayah di bagian utara Eropa yang penampakannya menyerupai kota Venice di Italia (yang berlokasi di selatan Eropa) yang penuh dengan sungai, kanal, dan perahu. Masalahnya, banyak kota-kota yang mengklaim dirinya sebagai Venice of the North, misalnya saja Amsterdam dan Bruges. Hingga detik ini, saya sendiri belum bisa memastikan siapa sesungguhnya pemilik sah dari nama tersebut.

Salah satu tempat yang juga disebut-sebut sebagai Venice-nya Eropa Utara adalah Giethoorn, sebuah kompleks pedesaan di bagian timur laut Belanda. Giethoorn ini kalau dibilang terkenal, sebetulnya tidak terkenal-terkenal amat karena mayoritas wisatawan mancanegara tidak familiar dengan nama Giethoorn. Bagi turis asing, Belanda adalah Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, dan sekitarnya; hal yang sebenarnya wajar mengingat ketiga lokasi tersebut letaknya berdekatan dan bisa dicapai satu sama lain dengan kereta yang frekuensi keberangkatannya sangat tinggi, sementara Giethoorn berada nun jauh di sana dan dibutuhkan setidaknya 3,5 jam berkereta dari Amsterdam. Tetapi bagi penduduk Belanda sendiri, Giethoorn adalah tujuan berlibur yang cukup populer, terutama di akhir pekan di mana orang-orang bisa menghabiskan seharian penuh (bahkan bermalam) di sana.

Namun belakangan ini Giethoorn mulai dikenal lebih luas lantaran sering disebut-sebut di berbagai artikel traveling yang membahas tentang hidden gems dan kota-kota kecil yang dianggap underrated dari segi pariwisata. Dari artikel itu pulalah saya pertama kali mengetahui tentang Giethoorn, dan akhirnya seminggu sebelum saya pulang for good ke Indonesia, saya pun menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana. Untuk mencapai Giethoorn, rute yang paling mudah adalah dengan menggunakan kereta hingga stasiun Steenwijk atau Zwolle, dilanjutkan dengan menggunakan bus hingga halte Wanneperveen – Blauwe Hand.

Saya berangkat ke sana bersama beberapa teman Indonesia sesama mahasiswa KIC InnoEnergy; ada Aldrich sesama SELECT-er, Bagus dari SENSE, dan Rani dari ENTECH. Rani in particular sangat  bersemangat untuk pergi karena ingin mencoba kamera canggih yang baru ia beli, yang tentunya membuat saya, Aldrich, dan Bagus ikut-ikutan bersemangat karena artinya kami akan mendapatkan banyak foto-foto berkualitas tinggi selama di Giethoorn.

Kami berempat sepakat untuk berkumpul di stasiun Eindhoven sekitar pukul 8 pagi agar kami bisa mencapai Giethoorn sebelum tengah hari. Kami sampai di stasiun Steenwijk sekitar pukul 11.30 setelah 2x berganti kereta di Utrecht dan Zwolle. Jarak antara stasiun Steenwijk dengan Blauwe Hand sebetulnya tidak begitu jauh, hanya sekitar 20 menit menggunakan bus. Namun permasalahannya ada pada frekuensi kedatangan bus yang hanya 30 menit sekali, sementara calon penumpang yang sama-sama ingin ke Giethoorn jumlahnya bejibun sehingga besar kemungkinan kita tidak memperoleh tempat di bus. Kalaupun kita menunggu bus berikutnya yang datang 30 menit kemudian, calon penumpang bus akan tetap banyak (bahkan bisa lebih banyak) karena kereta-kereta yang sampai di Steenwijk dalan rentang 30 menit tersebut menurunkan banyak penumpang yang juga ingin menaiki bus ke Giethoorn. Kami berempat berhasil masuk ke dalam bus yang pertama datang, walaupun mesti berjuang berdesak-desakan baik saat mengantri naik maupun selama di dalam bus.

Sesampainya di Wanneperveen – Blauwe Hand, kita dapat melihat pemandangan sebuah sungai besar tepat di samping jalan, dengan rumah-rumah yang berjejer di tepi sungai dan kapal-kapal yang bertebaran sepanjang sungai. Untuk mencapai town center Giethoorn, kita harus berjalan terlebih dahulu ke arah Tourist Information Center lalu menyusuri tepi sungai hingga sebuah jembatan di pertigaan antara sebuah gereja dan museum. Dari situlah area wisata yang banyak disebut-sebut sebagai Venice of the North membentang ke kiri dan kanan.

Pemandangan dari halte Wanneperveen - Blauwe Hand

Pemandangan dari halte Wanneperveen – Blauwe Hand

Mobil dan motor tidak diizinkan masuk ke dalam area Giethoorn, sehingga wilayah ini hanya bisa ditelusuri dengan berjalan kaki, bersepeda, atau menaiki perahu. Bersepeda bukanlah pilihan yang baik, mengingat ukuran jalan yang kecil dan penuh dengan orang, serta banyaknya jembatan yang bentuknya melengkung. Cara paling afdhol untuk menikmati Giethoorn adalah dengan menyewa perahu kecil (biasanya bisa menampung hingga 6 orang) yang rata-rata harga sewanya adalah 20 Euro per jam. Opsi lainnya adalah dengan mengikuti tur menggunakan kapal besar (biasanya diikuti oleh wisatawan lansia atau rombongan besar) yang harganya 10 Euro per orang untuk durasi tur 1 jam.

Kapal besar untuk scheduled tour mengelilingi desa, berdurasi 1 jam.

Kapal besar untuk scheduled tour mengelilingi desa, berdurasi 1 jam.

Menyewa perahu motor, merupakan cara terbaik untuk menikmati Giethoorn.

Menyewa perahu motor, cara terbaik untuk berkeliling Giethoorn.

Setelah makan siang di sebuah restoran fish n chips, kami berjalan-jalan menyusuri sungai dengan mengambil jalan ke kanan dari pertigaan gereja. Giethoorn memang cantik, persis seperti yang diceritakan di tulisan-tulisan yang saya baca. Yang tidak saya antisipasi adalah membludaknya jumlah pengunjung yang membuat pemandangan kanal dan perahu menjadi agak terganggu (padahal saya sendiri juga pengunjung hahaha).

dscf7640

Saat kami berempat hendak menyewa perahu, ternyata hampir semua perahu di sana sudah habis disewa oleh pengunjung lain. Untungnya, setelah menunggu sekitar 30 menit di salah satu tempat penyewaan perahu, ada satu perahu yang dikembalikan oleh penyewa sebelumnya sehingga bisa kami sewa. Ada beberapa pilihan rute untuk berperahu, bergantung pada durasi yang diinginkan. Awalnya kami berencana mengambil rute yang berdurasi 2 jam, namun karena pukul 4 sore akan diadakan festival dan seluruh jalan & sungai akan ditutup, kami harus mengembalikan perahu sebelum pukul 4 sore (saat itu pukul 2 siang) sehingga kami memutuskan untuk memotong rute di danau dan hanya berperahu selama sekitar 1,5 jam.

It was super fun!

It was super fun!

Indonesian game changers (baca: Rani yang sedang mencoba kamera barunya).

Indonesian game changers (baca: Rani yang sedang mencoba kamera barunya).

Ternyata keputusan kami memang tepat adanya. Setelah kami mengembalikan perahu dan melanjutkan berkeliling Giethoorn dengan berjalan kaki, mendadak lalu lintas di sungai menjadi sangat padat dan terjadi kemacetan total dengan antrean perahu yang sangat panjang. Geje banget pokoknya, haha..

Di air pun bisa kena macet.

Di air pun bisa kena macet.

Giethoorn paling ramai di musim panas, karena memang di musim panas lah bunga-bungaan mekar sehingga pemandangan di sekitar sungai menjadi lebih cantik. Udara dan cuaca musim panas juga paling cocok untuk berperahu di sungai. Turis saat musim dingin juga cukup ramai, terutama pada puncak-puncak winter saat suhu udara mencapai minus. Seluruh sungai di Giethoorn akan membeku dan seringkali dijadikan arena untuk ice skating.

dscf7666

Hal yang harus diperhatikan adalah jadwal kepulangan dari Giethoorn. Bus dari halte di sana ke stasiun Steenwijk hanya ada 30 menit sekali (sebagaimana rute sebaliknya), sementara di sore hari semua wisatawan berbondong-bondong ingin pulang. Kami berempat pun gagal naik ke bus pertama yang datang (padahal kami sudah menunggu 20 menit), dan baru bisa masuk ke bus selanjutnya sehingga kami harus berlari-lari dari bus menuju stasiun untuk mengejar kereta pulang ke Eindhoven.


Bosnia (3): Sarajevo Old Town

Sama seperti kebanyakan kota-kota besar di Eropa, hampir seluruh objek wisata penting di Sarajevo terkonsentrasi di old town dan sekitarnya. Sesuai dengan namanya, old town merupakan daerah tertua di Sarajevo, yang dibangun pada masa pemerintahan Turkish Ottoman di abad ke-14. Karena itu pula, bangunan dan suasana jalanan di wilayah ini sangat kental dengan nuansa Islam dan Timur Tengah. Area utama old town merupakan pedestrian yang dipenuhi dengan restoran tradisional, kafe-kafe yang menjajakan Bosnian tea, Bosnian coffee, Bosnian delight, Bosnian baklava, dan kudapan ringan khas Bosnia lainnya, kios-kios souvenir, serta berbagai landmark kota Sarajevo.

Sepulang dari berkeliling ring luar Sarajevo, siang hingga sore hari di hari Minggu saya habiskan dengan berjalan kaki seputar old town ini. Saya memulai dari ujung barat, yaitu Vijećnica atau City Hall, sebuah bangunan dua lantai bergaya Moorish yang dibangun di akhir abad ke-19. Tahun 1949, bangunan ini dijadikan sebagai National Library, namun mayoritas buku-buku di dalamnya hangus ketika bangunan tersebut dibakar oleh tentara Serbia tahun 1992. Setelah perang usai, bangunan ini direstorasi dan kini menjadi monumen nasional dan objek wisata. Harga tiket masuk ke dalam City Hall adalah 4 KM untuk pengunjung biasa dan 2 KM untuk pelajar.

City Hall a.k.a National Library

City Hall a.k.a National Library

Oia, satu lagi hal yang sangat saya sukai dari Bosnia: penduduknya sangat ramah dan baik hati. Setiap saya hendak mengajak bicara seseorang misalnya, entah itu penjual minuman, penjaga counter tiket, supir taksi, atau sekedar orang lewat yang ingin saya tanyai arah jalan, mereka selalu menyapa saya dengan mengucapkan “Assalamualaikum” sambil tersenyum. Waktu itu, saat saya mau membeli tiket mahasiswa di City Hall dan hendak mengeluarkan kartu mahasiswa saya untuk ditunjukkan sebagai bukti, mas-mas penjaga counter sambil tertawa bilang, “Nggak perlu, dari melihat saja saya sudah tahu kamu pasti pelajar.” Saya cuma ikut tertawa sambil mengucapkan terima kasih, nggak tahu aja dia kalau 2 minggu lagi saya udah bukan mahasiswa dan kartu mahasiswa saya udah nggak akan berlaku.

Interior City Hall. Nuansanya Moorish - Moroccan banget.

Interior City Hall. Nuansanya Moorish-Moroccan banget.

Di dalam City Hall, selain kita bisa menikmati arsitektur interior yang bernuansa Maroko dan Andalusia, kita juga bisa melihat ruangan tempat rapat/sidang para anggota city council serta hall tempat acara-acara resepsi. Di lantai dasar juga terdapat permanent exhibition yang memamerkan dokumentasi-dokumentasi yang berhubungan dengan konstruksi dan restorasi City Hall, serta transisi kota Sarajevo sebelum dan setelah perang.

Pameran permanen di City Hall.

Pameran permanen di City Hall.

Dari City Hall, saya menuju ke Emperor’s Mosque untuk sholat Dzuhur. Sebetulnya, masjid yang paling populer di Sarajevo adalah Gazi Husrev-beg Mosque yang terletak dekat old town center. Namun karena masjid tersebut terlalu turistik (dan mayoritas turisnya adalah bule-bule), saya merasa sepertinya akan kurang nyaman untuk sholat di sana, sehingga saya memilih Emperor’s Mosque yang lebih sepi dan tenang. Emperor’s Mosque merupakan masjid pertama di Sarajevo, dibangun pada tahun 1457 setelah wilayah tersebut ditaklukkan oleh Ottoman. Kini bagian pekarangan di dalam masjid dijadikan sebuah kafe, di mana orang-orang bisa menikmati teh atau kopi selepas sholat. Begitu saya masuk ke areal masjid, penjaga masjid dan pelayan kafe pun segera menyapa saya sambil mengucapkan salam.

Emperor's Mosque

Emperor’s Mosque

Selepas dari masjid, saya menyeberangi Latin Bridge untuk masuk ke area utama old town. Latin Bridge adalah jembatan yang merupakan lokasi tepat di mana Perang Dunia Kesatu dimulai. Tanggal 28 Juli 1914, Franz Ferdinand yang merupakan pewaris tahta Austro-Hungaria dibunuh oleh seorang aktivis Serbia-Bosnia di atas jembatan tersebut, yang akhirnya memicu konflik diplomatik antar blok negara-negara di Eropa dan akhirnya Perang Dunia Kesatu pun pecah.

Latin Bridge. World War 1 started here.

Latin Bridge. World War 1 started here.

Setelah menyeberangi Latin Bridge, jika kita berjalan lurus, maka kita akan sampai di Tašlihan, sebuah area yang dulunya merupakan kompleks akomodasi terbesar di Sarajevo semasa pemerintahan Ottoman. Kompleks ini juga hancur terbakar saat Perang Bosnia-Serbia dan hingga kini beberapa bagiannya masih berupa ruins, sementara bagian-bagian lainnya direstorasi menjadi hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan.

Tašlihan

Tašlihan

Tak jauh dari sana, ada beberapa katedral dan sinagog besar yang juga menjadi main attractions di old town. Saya sendiri memilih untuk mengunjungi kompleks masjid dan madrasah Gazi Husrev-beg, yang merupakan objek yang paling populer dan didatangi paling banyak turis (sehingga saya memilih untuk sholat di masjid lain). Memasuki area masjid (bukan ke dalam masjidnya) tidak dipungut biaya, dan di dalamnya terdapat air pancur besar tempat berwudhu, juga makam beberapa imam.

Gazi Husrev-beg Mosque

Gazi Husrev-beg Mosque

Gerbang madrasah tepat berhadap-hadapan dengan gerbang masjid. Madrasah ini kini menjadi sebuah museum yang memamerkan dokumentasi-dokumentasi yang berkaitan dengan pembangunan dan aktivitas di kompleks Gazi Husrev-beg, baik pada masa Ottoman dulu maupun saat ini. Untuk memasukinya, kita harus membeli tiket yang harganya kalau tidak salah 2 KM. Saya lupa berapa harga pastinya karena sang penjaga gerbang menyuruh saya masuk ke dalam tanpa membayar. Awalnya, beliau menyapa saya dan saya pun membalas salamnya. Mungkin karena melihat saya yang wajahnya tidak begitu familiar (mayoritas turis di Bosnia adalah orang Eropa), tampak seperti anak kecil, dan mengenakan kerudung (walaupun mayoritas Muslim, jilbab bukan sesuatu yang lumrah dikenakan di sana), beliau bertanya dari mana saya berasal. Begitu saya menjawab dari Indonesia, beliau lalu bercerita bahwa di dalam museum terdapat foto Presiden Soekarno saat berkunjung dan menunaikan sholat di Masjid Gazi Husrev-beg. Setelahnya, ketika saya ingin membayar tiket, beliau menolak uang dari saya dan menyuruh saya untuk masuk begitu saja.

Gazi Husrev-beg Madrasa

Gazi Husrev-beg Madrasa

Jalan-jalan saya di old town diakhiri dengan mendatangi old town center. Old town center atau lokasi yang menjadi titik pusat old town adalah sebuah jalan bernama Baščaršija, yang ditandai dengan keberadaan air mancur Sebilj. Ketika saya mampir di salah satu kios untuk membeli sebotol minuman dingin, sang pemilik kios yang sedang minum kopi memberikan sepotong Bosnian delight yang ada di piringnya untuk saya cicipi. Melihat saya yang tampak senang, teman si pemilik kios yang juga sedang minum kopi ikut-ikutan memberikan potongan Bosnian delight di piringnya untuk saya. Awalnya saya menolak, tapi si bapak bersikeras dan akhirnya saya pun menerima pemberian beliau dengan sukacita (ya iyalah).

Jalan Baščaršija dan Sebilj Fountain. Ciri khasnya selalu ramai burung-burung.

Jalan Baščaršija dan Sebilj Fountain. Ciri khasnya selalu ramai burung-burung.

Sebetulnya masih banyak lagi tempat yang bisa didatangi di sekitar area old town. Jika berjalan menanjak ke arah barat dari City Hall, kita akan sampai di Yellow Fortress, sebuah benteng yang dari atasnya kita bisa melihat pemandangan kota Sarajevo. Awalnya saya berencana untuk ke sana menjelang sunset, tapi ternyata tenaga saya sudah habis karena seharian berjalan kaki. Perjalanan mendaki bukit selama 20 menit rasanya terlalu berat untuk saya waktu itu, apalagi saya juga sudah melihat pemandangan kota dari posisi yang lebih tinggi di Gunung Trebevic sehingga saya pun cukup ikhlas untuk membatalkan rencana naik ke Yellow Fortress. Ada juga berbagai museum bertebaran di sekeliling old town, kebanyakan bertemakan sejarah kota Sarajevo dan dokumentasi masa-masa Perang Dunia dan Perang Bosnia-Serbia.


Bosnia (2): Siege Time of Sarajevo

Sarajevo adalah ibukota yang unik dan kaya akan sejarah. Selain karena penduduknya yang sangat multicultural dan multireligious (di sini kita bisa mendengar adzan dari speaker masjid 5x sehari sekaligus lonceng dari gereja catholic maupun orthodox, juga melihat keramaian aktivitas di synagogue), Sarajevo juga menjadi saksi dari pemerintahan Turkish Ottoman di abad ke-14, Austro-Hungarian di abad ke-16, sosialisme di bawah militer Yugoslavia, Perang Dunia Kesatu, Perang Dunia Kedua, hingga Perang Bosnia melawan serdadu Serbia yang baru berakhir tahun 1995. Guest house tempat saya menginap berada di daerah old town, yang terletak di sisi barat Sarajevo. Wilayah old town ini memiliki tata kota dan arsitektur bangunan-bangunan yang sangat kental dengan nuansa Islam dan Ottoman. Bisa dibilang daerah inilah yang paling awal dibangun di Sarajevo. Jika kita menyusuri jalanan utama Sarajevo dimulai dari old town ke arah timur, kita bisa melihat dengan jelas transisi kependudukan dari Ottoman ke Austro-Hungarian (bangunan-bangunannya bergaya Eropa, mirip seperti Wina), kemudian semakin ke timur tata kota pun beralih menjadi rumah-rumah susun yang identik satu sama lain di sebelah timur Sarajevo, yang mengindikasikan pemerintahan sosialis Yugoslavia.

Setelah menghabiskan hari Sabtu di luar Sarajevo, saya seharian berkeliling Sarajevo di hari Minggu. Satu hari tersebut saya bagi menjadi 2 agenda. Pagi hingga siangnya saya rencanakan untuk mengunjungi beberapa lokasi di ring terluar Sarajevo yang berkaitan dengan peristiwa pengepungan kota Sarajevo oleh tentara Serbia dalam rentang 1992-1995. Setelahnya, siang hingga sore hari akan saya alokasikan untuk berjalan kaki mengelilingi area old town.

Pukul 8.30 pagi, saya berangkat menuju Sarajevo Tunnel atau yang juga dikenal sebagai Tunnel of Hope, sebuah terowongan yang dibangun oleh penduduk Bosnia saat kota Sarajevo dikepung oleh tentara Serbia. Saat itu, meskipun Sarajevo berhasil dikepung oleh Serbia, daerah pegunungan Igman tepat di barat daya Sarajevo masih berada di bawah kekuasaan penuh rakyat Bosnia. Ketika penduduk Bosnia di Sarajevo mulai kehabisan suplai makanan dan kebutuhan sehari-hari, penduduk di luar Sarajevo berusaha membantu dengan menyelundupkan berbagai barang dan makanan ke dalam Sarajevo melalui pegunungan Igman. Sarajevo dan Igman dipisahkan oleh sebuah lapangan terbang (kini Sarajevo International Airport), yang merupakan tanah luas tanpa bangunan ataupun pepohonan yang dapat melindungi para penyelundup dari penglihatan tentara Serbia. Banyak penduduk Bosnia yang tewas tertembak ketika tengah berlari menyeberangi lapangan terbang tersebut di tengah usahanya untuk menyelundupkan makanan dan barang-barang untuk orang-orang di Sarajevo.

Ketika PBB akhirnya turun tangan untuk mengendalikan situasi konflik Bosnia-Serbia, daerah lapangan terbang dideklarasikan sebagai wilayah netral di bawah kendali PBB. Seandainya PBB tidak mengambil alih lapangan terbang, maka Sarajevo akan terkepung total dan kecil kemungkinan penduduk Bosnia di dalamnya dapat bertahan hidup. Setelah lapangan terbang dikuasai oleh PBB, penduduk Bosnia membangun terowongan di bawahnya untuk menghindari pengawasan tentara Serbia sehingga orang-orang dapat mensuplai makanan, obat-obatan,senapan, dan keperluan lainnya melewati lapangan terbang tanpa terlihat (dan tertembak) pasukan Serbia. Terowongan inilah yang berkontribusi menyelamatkan banyak penduduk Bosnia dari kelaparan dan luka-luka hingga akhirnya bertahan hidup hingga perang usai.

Peta pengepungan Sarajevo semasa Perang Bosnia. Warna biru muda adalah daerah kekuasaan Bosnia, warna merah adalah tentara Serbia. Petugas PBB menguasai wilayah bandara untuk menghindari pengepungan total Sarajevo.

Peta pengepungan Sarajevo semasa Perang Bosnia. Warna biru muda adalah daerah kekuasaan Bosnia, warna merah adalah tentara Serbia. Petugas UN menguasai wilayah bandara untuk menghindari pengepungan total Sarajevo.

Kini rumah tempat dibangunnya terowongan tersebut dijadikan sebuah museum. Harga tiket untuk masuk ke dalamnya adalah 10 KM, namun saya sebagai mahasiswa hanya dikenakan biaya 5 KM atau 2,5 Euro dengan menunjukkan kartu mahasiswa (Sarajevo is absolutely student friendly! :D). Pertama-tama saya menonton sebuah video dokumentasi yang menggambarkan masa-masa pengepungan Sarajevo; bagaimana ibukota tersebut dibombardir oleh rudal setiap harinya (ratusan rudal per hari!) dan seluruh bangunan hancur sehingga penduduknya harus berlindung di basement. Kemudian di sana juga ada exhibition untuk menunjukkan proses pembuatan terowongan dan bagaimana terowongan tersebut dimanfaatkan untuk mengirim suplai makanan, obat-obatan, senjata, hingga mengirim tentara Bosnia yang terluka untuk dirawat di luar Sarajevo.

Tunnel Museum. Dulunya rumah penduduk yang disumbangkan oleh pemiliknya untuk pembangunan terowongan. Bekas-bekas peluru di dinding itu betulan, akibat tembakan-tembakan tentara Serbia.

Tunnel Museum. Dulunya rumah penduduk yang disumbangkan oleh pemiliknya untuk pembangunan terowongan. Bekas-bekas peluru di dinding itu betulan, akibat tembakan-tembakan tentara Serbia.

Saat ini, terowongannya sendiri sudah ditutup demi alasan keamanan bandara, namun beberapa puluh meter terowongan dari pintu masuknya masih dibuka dan direkonstruksi, serta dapat dimasuki oleh pengunjung museum. Terowongan tersebut tingginya hanya sekitar 155-160 cm, sehingga mayoritas pengunjung (dan penduduk Bosnia di kala itu) harus berjalan membungkuk untuk melaluinya. Hal yang pastinya tidak berlaku bagi saya, yang bisa dengan leluasa berjalan tegak bahkan berjinjit di dalam terowongan (#songong).

Mulut terowongan.

Mulut terowongan.

Destinasi berikutnya adalah Gunung Trebevic, yang terletak di tenggara Sarajevo. Gunung tersebut bisa dikatakan sebagai first line saat Sarajevo mulai dikepung dan merupakan lokasi tempat berlangsungnya banyak pertempuran dan adu tembak antara pasukan Bosnia dan Serbia. Dari puncak gunung, dapat terlihat dengan jelas kondisi kota Sarajevo yang dikelilingi oleh pegunungan dan dapat dibayangkan bagaimana terkepungnya kota Sarajevo ketika hampir seluruh gunung di sekelilingnya dikuasai oleh Serbia.

Kota Sarajevo

Kota Sarajevo

Gunung Trebevic juga merupakan salah satu gunung yang digunakan sebagai arena pertandingan saat Bosnia menjadi tuan rumah Winter Olympics di tahun 1984. Salah satu sisa peninggalan olimpiade adalah lintasan bobsled atau bobsleigh, yang saat ini kondisinya sudah rusak karena perang dan dipenuhi banyak sekali graffiti. Dari puncak, saya turun ke bawah melalui lintasan bobsled, dan butuh sekitar 30 menit berjalan santai untuk menyusuri lintasan dari ujung atas sampai ke ujung bawah. Ironis kalau dipikir-pikir; negara yang pernah menjadi pusat perhatian dunia karena menjadi tuan rumah olimpiade, kurang dari 10 tahun kemudian hancur porak-poranda dan penduduknya habis dibantai. Sedih.

Lintasan bobsled

Lintasan bobsled

Di sekitar Gunung Trebevic juga terdapat banyak situs-situs yang hancur karena perang dan belum direkonstruksi hingga saat ini. Bunker dan rumah polisi misalnya. Juga dapat ditemukan banyak sisa-sisa peperangan seperti bekas jejak tank baja, minefield, pecahan peluru meriam dan granat, dan sebagainya.

Korban perang.

Korban perang (rumahnya, bukan bulenya).


Bosnia (1): Herzegovina

Dari daftar destinasi yang ingin saya kunjungi, salah satu lokasi yang ada di urutan 5 teratas adalah Bosnia. Teman-teman terdekat saya pasti mengetahui betapa inginnya saya untuk bisa pergi ke Bosnia sejak saya menjejak kaki di Eropa. Awalnya saya berencana pergi ke sana saat libur Natal kemarin, namun akhirnya batal karena satu dan lain hal (dan akhirnya saya justru pergi ke Belgia dan Islandia). Dan tanpa terasa waktu saya di Eropa akan segera habis karena masa kuliah saya yang sebentar lagi selesai, yang artinya saya tidak punya banyak waktu lagi untuk memanfaatkan residence permit saya untuk bisa ke Bosnia tanpa visa. Karena itulah, saya keukeuh untuk pergi ke Bosnia selepas menyelesaikan tesis. Dengan pertimbangan direct flight dari Belanda ke Bosnia yang hanya ada 2x dalam seminggu, akhirnya saya menjadwalkan untuk berangkat sehari setelah sidang tesis. Selain masalah jadwal pesawat, dengan menjadwalkan keberangkatan tepat setelah sidang, saya berharap motivasi saya untuk segera menyelesaikan tesis dan sidang akan semakin bertambah. And it worked! Hahaha…

Saya berangkat hari Jumat sore tanggal 19 Agustus dari Eindhoven, dengan maskapai Wizz Air menuju Tuzla. Dari Tuzla, saya menggunakan airport shuttle untuk mencapai Sarajevo, ibukota Bosnia, yang letaknya sekitar 2 jam bermobil dari Tuzla. Awalnya saya sempat khawatir dengan kondisi fisik saya yang kurang baik akibat pengerjaan tesis dan persiapan sidang yang jor-joran selama 2 minggu terakhir (baca: kurang tidur, kurang makan, dsb.), dan cemas kalau-kalau selama di Bosnia saya justru jatuh sakit dan bukannya menikmati perjalanan. Tapi berhubung perjalanan sudah telanjur dipersiapkan, show must go on. Dengan membaca basmallah saya pun berangkat.

Meskipun saya akan berkunjung ke beberapa kota di Bosnia, Sarajevo akan menjadi base saya selama 4 hari 3 malam. Saya menginap di sebuah guest house milik sebuah keluarga Muslim Bosnia yang sangat ramah dan baik hati. Bosnia menggunakan mata uang Bosnian Mark atau biasa disebut KM. 1 Euro setara dengan sekitar 2 KM. Salah satu hal yang paling saya suka dari Bosnia adalah harga-harga yang serba murah, sampai-sampai selama 4 hari 3 malam saya di sana, saya hanya menghabiskan 50 KM atau sekitar 25 Euro untuk makan dan transportasi. Penginapan saya pun relatif murah, 15 Euro per malam untuk single room berukuran sekitar 24 m2 dengan private bathroom, private entrance, sofa besar, TV, dan electric kettle.

Hari Sabtu saya alokasikan untuk seharian berkeliling ke beberapa kota di luar Sarajevo, tepatnya ke wilayah bagian Herzegovina yang terletak di arah barat daya Sarajevo. Sekitar pukul 8 pagi, saya berangkat dari guest house dan berjalan sekitar 15 menit ke old town center, lalu menuju keluar kota menggunakan mobil.

Konjic

Perhentian pertama adalah kota Konjic yang merupakan daerah pemukiman paling tua di Bosnia. Banyak bangunan di kota ini yang hancur semasa perang dengan Serbia di tahun 90an, meskipun mayoritas bangunan-bangunan tersebut kini telah direkonstruksi. Main attraction di sini adalah Konjic Bridge, sebuah jembatan tua di atas Sungai Neretva. Sungai Neretva bisa dibilang merupakan sungai terpenting yang menjadi ‘ruh’ Bosnia, seperti Danube di Hungaria atau Nil di Mesir. Karena keterbatasan waktu, saya hanya mampir sangat sebentar di tempat ini sekedar untuk merenggangkan badan dan menghirup udara luar.

Konjic Bridge

Konjic Bridge

Pemandangan dari atas jembatan

Pemandangan dari atas jembatan

Jablanica

Jablanica adalah sebuah kota sekaligus nama sebuah danau buatan yang dibangun di Sungai Neretva untuk konstruksi hydropower plant. Danau dan sungai ini membentang di sisi jalan sepanjang perjalanan dari Konjic menuju Mostar, dengan perbukitan dan gunung-gunung yang menjadi latar belakangnya. Just gorgeous.

Danau Jablanica

Danau Jablanica, dilihat dari dalam mobil di tengah perjalanan Konjic-Mostar

Di Jablanica juga terdapat Neretva Bridge, sebuah jembatan di Sungai Neretva yang dihancurkan semasa Perang Dunia Kedua. Jembatan ini dihancurkan sebanyak 3 kali; yang pertama sebagai tipuan, yang kedua saat penyerangan yang sebenarnya, dan yang ketiga saat pembuatan film perang di tahun 1969.

Jembatan Jablanica

Jembatan Jablanica

Mostar

Mostar mungkin merupakan kota terpopuler kedua di Bosnia setelah Sarajevo. Kota ini banyak didatangi oleh turis karena lokasinya yang dekat dari Kroasia sehingga banyak orang mampir ke Mostar saat berwisata di Kroasia. Mostar juga dekat dari Medugorje, sebuah lokasi tempat berdirinya patung Virgin Mary yang menjadi destinasi pilgrimage untuk orang-orang Kristiani. Dan alasan utama kota ini ramai dikunjungi wisatawan adalah karena pemandangannya yang memang cantik dan sejarahnya yang kental dari masa Ottoman di abad ke-14 hingga Perang Bosnia tahun 90an.

Main attraction di Mostar adalah Stari Most atau Mostar Bridge. Jembatan ini sempat hancur karena dibombardir rudal dan meriam saat Perang Bosnia, namun akhirnya direkonstruksi setelah perang usai. Mostar merupakan the hottest city in Europe. Saat saya kesana, suhunya sekitar 35 derajat dan orang-orang bilang hari itu agak lebih sejuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kota ini kecil tapi ramainya luar biasa, mungkin karena masih masa summer holiday juga. Selain Mostar Bridge, ada juga Crooked Bridge yang tidak terlalu ramai pengunjung.

Pemandangan dari atas Jembatan Mostar. Masjid di pinggir sungai itu namanya Masjid Koskun-Mehmed Pasha.

Pemandangan dari atas Mostar Bridge. Masjid di pinggir sungai itu namanya Masjid Koskin-Mehmed Pasha.

Pemandangan dari atas Crooked Bridge.

Pemandangan dari atas Crooked Bridge.

Selepas dari Mostar Bridge dan Crooked Bridge, saya mengunjungi perpustakaan untuk menonton sebuah film dokumenter pendek seharga 1 Euro yang menggambarkan kondisi Mostar semasa Perang Bosnia. Setelahnya saya pergi ke Masjid Koskin-Mehmed Pasha untuk menunaikan sholat Dzuhur sekaligus untuk melihat pemandangan Mostar dari atas minaretnya. Sebenarnya untuk masuk ke dalam masjid dan naik ke minaret, kita diharuskan untuk membeli tiket seharga 6 Euro. Namun karena saya Muslim dan datang untuk sholat, saya diperbolehkan masuk dan naik ke atas minaret dengan cuma-cuma.

Mostar Bridge dan pemandangan kota Mostar, dilihat dari atas minaret masjid.

Mostar Bridge dan pemandangan kota Mostar, dilihat dari atas minaret masjid.

Setelah sholat, saya mampir ke salah satu restoran Bosnian food yang direkomendasikan oleh pengemudi mobil yang saya tumpangi. Di sana saya memesan mix plate berisi campuran berbagai makanan tradisional Bosnia. Harganya 5 Euro, dan merupakan makanan termahal saya selama di Bosnia. Enak banget, alhamdulillah. Semua makanan di Bosnia insya Allah halal, karena mayoritas penduduknya beragama Islam (bahkan pork dilarang untuk diperjual-belikan).

Murah meriah. Lidah senang, perut kenyang, dompet tenang!

Murah meriah. Lidah senang, perut kenyang, dompet tenang!

Blagaj

Dari Mostar, saya menuju ke Blagaj yang berjarak sekitar 30 menit dengan mobil. Jika umat Kristiani punya Medugorje sebagai tujuan wisata religi, umat Muslim punya Blagaj. Di sana terdapat Blagaj Tekke, sebuah tempat ibadah yang terletak di tepi mata air Sungai Buna. Di dalamnya terdapat ruangan untuk sholat, untuk kelas agama, dll. Harga tiket untuk masuk ke sana adalah 2 Euro. Setiap pengunjung yang ingin masuk ke dalam bangunan ini wajib menggunakan pakaian tertutup. Turis laki-laki yang bercelana pendek diharuskan memakai sarung, sementara turis perempuan diminta mengenakan rok dan syal penutup kepala.

Blagaj Tekke (bangunan putih) dan Sungai Buna.

Blagaj Tekke (bangunan putih) dan Sungai Buna.

Selain wisata religi, tempat ini juga sering dijadikan lokasi untuk rafting. Tepat di depan Blagaj Tekke adalah Sungai Buna dan terdapat sebuah ‘gua’ di atas air. Banyak orang-orang yang menyewa perahu karet untuk menyusuri sungai dan gua tersebut.

Pengen nyobain juga tapi nggak ada waktu :(

Pengen nyobain juga tapi nggak ada waktu :(

Pocitelj

Tujuan perjalanan berikutnya adalah Pocitelj, sebuah historical town yang dikelilingi oleh sebuah fortress yang dibangun sejak sebelum masa Ottoman di abad ke-14. Bagi saya pribadi, pemandangan dari puncak fortress merupakan highlight perjalanan saya hari ini. Masjid, sungai, hutan, dan gunung dalam satu frame. Ditambah dengan angin sepoi-sepoi di tengah cuaca yang panas terik, rasanya adem banget hahaha…

Pemandangan dari atas fortress

Pemandangan dari atas fortress

The ruins of the fortress

The ruins of the fortress

Kravice

Destinasi terakhir adalah Kravice atau Kravica Waterfall, sekumpulan air terjun di Sungai Trebizat yang berlokasi di barat daya Mostar, hampir mendekati perbatasan dengan Kroasia. Berhubung hari sudah mulai gelap dan perjalanan pulang ke Sarajevo dari tempat ini membutuhkan waktu sekitar 3 jam, saya tidak terlalu berlama-lama di sini. Tidak sampai 1 jam saya duduk beristirahat ditemani sebotol minuman dingin, saya pun akhirnya meninggalkan lokasi untuk kembali ke Sarajevo.

Kravice Waterfall

Kravice Waterfall

Hari ini saya lelah sekali. Saya berangkat dari penginapan pukul 8 pagi, dan sampai kembali ke penginapan menjelang pukul 22.00 malam. Ditambah dengan kondisi tubuh saya yang sejak awal memang kurang fit, akhirnya untuk pertama kalinya dalam 2 minggu ini saya bisa tidur pulas sampai pagi. Capek tapi senang!